Prabowo Minta Cadangan BBM Nasional Ditingkatkan hingga Tiga Bulan

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan cadangan bahan bakar minyak (BBM) hingga setara kebutuhan selama tiga bulan.

Sebagai langkah awal, Kementerian ESDM tengah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan BBM baru. Menurut Bahlil, proyek pembangunan storage tersebut menjadi kunci agar kapasitas cadangan energi Indonesia dapat ditingkatkan secara signifikan.

“Selama ini banyak yang bertanya mengapa cadangan tidak ditingkatkan hingga 60 hari atau lebih. Masalahnya adalah keterbatasan tempat penyimpanan. Karena itu arahan Presiden adalah segera membangun storage agar cadangan bisa mencapai tiga bulan,” ujar Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/3).

Saat ini pemerintah masih melakukan kajian terkait lokasi pembangunan fasilitas tersebut melalui studi kelayakan. Salah satu wilayah yang dipertimbangkan untuk menjadi lokasi proyek adalah Sumatera.

Bahlil menjelaskan bahwa kemampuan penyimpanan BBM nasional masih terbatas. Dalam kondisi saat ini, cadangan energi Indonesia hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar 20 hingga 25 hari.

“Sejak lama kapasitas penyimpanan kita memang hanya sekitar 25 hari. Cadangan nasional berkisar 20 sampai 23 hari, dan sekarang sudah mencapai 23 hari sehingga sebenarnya sudah melewati batas minimum,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa keterbatasan cadangan energi bukan disebabkan kekurangan pasokan BBM, melainkan minimnya infrastruktur penyimpanan. Oleh karena itu, pembangunan fasilitas storage baru menjadi prioritas pemerintah.

Upaya peningkatan cadangan energi ini juga dipicu oleh dinamika geopolitik global yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, misalnya, dapat memengaruhi jalur distribusi energi internasional.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Ardian Nengkoda, menyebut sekitar 84 persen pasokan minyak menuju kawasan Asia melewati Selat Hormuz. Jika jalur strategis tersebut terganggu, pengiriman minyak dari negara-negara produsen seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran berpotensi terhambat.

Situasi tersebut juga tercermin dari pergerakan harga minyak global. Harga minyak jenis Brent dilaporkan naik sekitar 4,7 persen menjadi US$81,40 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turut meningkat sekitar 4,7 persen ke level US$74,56 per barel.

Ardian menilai jika gangguan distribusi minyak berlangsung dalam waktu lama, tekanan terhadap harga energi dunia dapat semakin besar. Kondisi itu berpotensi memengaruhi biaya logistik dan harga pangan di berbagai negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama